Thursday, January 31, 2013

BEI Siapkan Indeks Berorientasi Ekspor

Jakarta (ANTARA) - Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan untuk membuat indeks saham yang berorientasi ekspor menyusul partisipasi pasar modal domestik terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.
"Pembentukan indeks saham emiten itu dengan fokus yang berorientasi pada ekspor, hal itu salah satu cara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, selain didorong juga dari infrastruktur," ujar Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Friderica Widyasari Dewi di jakarta, Kamis.
Menurut dia, pendorong ekonomi domestik tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, dari sisi ekspor juga harus ditingkatkan. Kondisi itu yang memicu Bursa juga akan meluncurkan indeks ekspor.
"Mungkin tiga bulan dari sekarang," ucap dia.
Meski demikian, Friderica belum dapat mengungkapkan lebih jauh apakah pihak BEI akan bekerjasama dengan institusi terkait ekspor dalam pembentukan ekspor.
Terkait indeks harga saham infrastruktur (SMinfra18) yang baru diluncurkan, Friderica mengatakan, indeks infrastruktur itu merupakan salah satu wujud partisipasi Bursa mendukung pertumbuhan ekonomi.
"Indeks itu bekerjasama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), dalam indeks SMinfra18 terdapat 18 saham emiten yang mendukung infrastruktur salah satunya perbankan. Indeks SMinfra18 itu akan dikaji ulang setiap dua tahun sekali," kata dia.
Pengamat Ekonomi, Aviliani menambahkan, logistik dan infrastruktur merupakan agenda yang mendesak bagi perkembangan ekonomi Indonesia.
"September 2012 lalu, McKinsey Global Institute (MGI) meramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi ketujuh terbesar di dunia pada 2030 mendatang," paparnya.
Ia mengatakan, penguatan dukungan pendanaan untuk menangkap peluang dan menjawab tantangan dengan membentuk lembaga pembiayaan khusus infrastruktur, pembiayaan perbankan terutama bank BUMN, pemanfaatan sumber pendanaan dari dana pensiun dan asuransi, serta IPO BUMN yang terkait infrastruktur.
Menurut dia, opsi mengeluarkan surat utang (obligasi) sebagai modal pembiayaan dan instrumen pembiayaan bilateral, multilateral dan internasional harusnya menjadi opsi terakhir jika sumber pembiayaan utama sudah tidak dapat dilakukan.
Selain itu, lanjut dia, memprioritas pembangunan infrastruktur di sektor pertanian dan pedesaan agar masalah ketimpangan juga dapat teratasi.(tp)

Friday, January 25, 2013

Harga Emas Dunia Terus Menurun

Chicago (ANTARA/Xinhua) - Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange (NYMEX) ditutup lebih rendah pada Jumat (Sabtu pagi WIB), gagal menarik dukungan "safe haven" dari penurunan cukup besar dalam penjualan rumah baru AS untuk Desember.
Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Februari turun 13,3 dolar dolar AS, atau 0,8 persen, menjadi menetap di 1.656,6 dolar AS per ons. Harga kontrak, yang turun satu persen pada Kamis, adalah 1,8 persen lebih rendah untuk minggu ini atau penyelesaian harga terendah sejak 9 Januari.
Analis pasar mengatakan, fakta bahwa ada posisi jangka panjang terlalu banyak dibangun pada emas dan perak oleh investor ritel, dan ketidakmampuan menembus tingkat 1.700 dolar AS untuk emas dan 32,6 dolar AS per ons untuk perak mengakibatkan aksi jual pada hari ini.
Menurut Departemen Perdagangan AS, penjualan rumah baru keluarga tunggal turun 7,3 persen ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 369.000 pada Desember, namun memberikan sedikit dukungan untuk emas pada Jumat, bersama dengan kurangnya permintaan investasi untuk logam berharga.
Harga perak turun 2,3 persen untuk seminggu, atau diperdagangkan sekitar 3,2 persen lebih tinggi untuk tahun hingga hari ini, sedangkan perdagangan emas berjangka telah mengalami kerugian sebesar 1,2 persen sejak awal tahun ini.
Mengingat latar belakang itu, perak untuk pengiriman Maret turun 51,6 sen, atau 1,63 persen, menjadi ditutup pada 31,206 dolar AS per ons.(tp)

Thursday, January 10, 2013

Danareksa Tambah Obligasi Rp 1 Triliun

Liputan6.com, Jakarta : PT Danareksa (Persero)  berencana menambah penerbitan surat utang (obligasi) senilai Rp 1 triliun di semester II-2013. Dana obligasi tersebut akan digunakan investasi dan refinancing.
Perseroan sebelumnya telah melakukan penawaran umum obligasi berkelanjutan pada tahap pertama senilai Rp 500 miliar dari total penawaran obligasi 2012 sekitar Rp 1 triliun. Obligasi tahap pertama diterbitkan pada Desember 2012.
"Sisanya akan dilakukan Rp 500 miliar pada semester I 2012. Namun, kami akan menambah lagi Rp 1 triiun untuk penerbitan obligasi berkelanjutan yang kedua," ujar Executive Director PT Danareksa Aloysius K Ro di acara Indonesian Investment Outlook 2013 di Jakarta, Kamis (10/1/2013).

Menurut dia, dana hasil penerbitan surat utang itu akan digunakan untuk memperkuat modal kerja, khususnya untuk refinancing utang dan penanganan emisinya. "Kami akan realisasikan obligasi berkelanjutan di semester II tahun ini sebesar Rp 1 triliun. Dana tersebut digunakan untuk penanganan emisi dan refinancing utang Danareksa," katanya.

Seperti yang diketahui,  Danareksa sebelumnya telah menerbitkan obligasi Rp 500 miliar pada Desember 2012, dan sisanya akan diterbitkan tahun ini sebesar Rp 500 miliar.
Jenis obligasi seri A dengan  kupon 7,25-8,25 persen dengan tenor tiga tahun. Untuk seri B dengan kupon 7,875-8,875 persen dengan tenor lima tahun. Keduanya sudah tercatat di BEI pada Januari ini. (DIS)

Wednesday, January 2, 2013

SBY Mendadak Batal Buka Perdagangan Saham

SBY Mendadak Batal Buka Perdagangan Saham
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hasanuddin Aco
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendadak membatalkan agenda membuka perdagangan saham  awal 2013 di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu (2/1/2013), pagi ini.
Acara seremonial ini akan dibuka  dibuka oleh Wakil Presiden Boediono.
Belum jelas alasan SBY tidak membuka perdagangan saham di BEI. Namun, sepanjang menjadi Presiden selalu SBY membuka perdagangan saham di awal tahun.
SBY yang juga besan Menko Perekonomian Hatta Rajasa ini sejak awal dijadwalkan akan membuka perdagangan saham.

Tuesday, January 1, 2013

Pungutan Royalti Bisa Menurunkan Harga Saham

Pungutan Royalti Bisa Menurunkan Harga Saham
TEMPO.CO, Jakarta - Head of Equity Research PT Mandiri Sekuritas, John Rachmat, menyatakan kebijakan pungutan royalti yang dilakukan perusahaan asing seperti Unilever bakal berdampak pada penurunan harga sahamnya di tahun ini.
Seperti diketahui, Unilever secara mengejutkan mengumumkan kenaikan pungutan royalti pada 12 Desember lalu. Pungutan yang harus disetor oleh cabang-cabang usahanya di seluruh dunia kepada induk perusahaan naik menjadi 5 persen dari total omset pada tahun ini, dari yang sebelumnya hanya sebesar 3,5 persen.
Kenaikan pungutan royalti ini masih berlanjut dan bertahap hingga 2015. Pada 2014, royalti bakal menjadi 6,5 persen dan 8 persen di 2015. Pungutan ini ditetapkan begitu saja tanpa meminta pendapat dari pemegang saham minoritas, sebab menurut manajemen perusahaan kebijakan tersebut tidak menimbulkan konflik kepentingan.
Meski begitu, saham Unilever menunjukkan penurunan hingga 21,5 persen selama dua hari perdagangan bursa setelah kebijakan pungutan royalti diumumkan.
"Dan kami yakin Unilever bakal terus mengalami penurunan karena para investor mengkaji kembali resiko yang bisa diterima mereka," kata John sebagaimana dikutip dari keterangan tertulisnya kepada Tempo, Selasa 01 Januari 2013.
Kebijakan Unilever ini, kata dia, sekaligus gambaran bagi perseroan lainnya bahwa kebijakan yang rentan dapat membuat koreksi cukup tajam pada harga saham mereka. Bahkan apabila kebijakan-kebijakan mendadak serta perkembangan ekonomi yang tak terduga lainnya seperti ini terus terjadi di 2013, bukan tidak mungkin bakal berdampak pula pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Mandiri Sekuritas memperkirakan IHSG bisa terkoreksi menjadi di level 3995 di kuartal akhir tahun ini. Perkiraan ini, menurutnya, didapat berdasar perhitungan asumsi harga saham terhadap 36 perusahaan yang berada di bawah naungan Mandiri Sekuritas.
GUSTIDHA BUDIARTIE